Pelatihan Perancangan Kontrak | Pentingnya Negosiasi Bisnis Dalam Perancangan Kontrak ( 3 ).

Dalam perancangan kontrak ( contract drafting ), tak lepas dari tahapan dalam bisnis. Karena tahapan tersebut mempengaruhi syarat sah sebuah kontrak yang perlu diperhatikan. Untuk pelatihan ke tiga ini biizaaLegal akan menyampaikan pentingnya proses bisnis yang akan mempengaruhi kontrak.




Bagaimana proses bisnis dan perancangan kontrak?

Dalam transaksi bisnis biasanya di mulai dari penawaran dengan saling mengajukan proposal atau penawaran. Tentu dalam hal ini kedua belah pihak perlu saling memahami apa yang akan ditransaksikan serta keuntungan atau laba apa yang akan di dapatkan oleh para pihak untuk disepakati. Hal ini yang akan mempengaruhi syarat sah sebuah kontrak yang nanti akan biizaa jelaskan.

Kita ambil contoh tentang kerjasama pembelian sebuah perusahaan. Maka terjadilah negosiasi bisnis tentang hal hal yang perlu disamakan persepsinya. Biasanya pihak penjual menyampaikan tentang kondisi, nilai dan proyeksi ke depan tentang perusahaan yang dijualnya. Perusahaan penjual menyampaikan neraca untuk menjelaskan posisi keuangan perusahaan, menyampaikan laporan perubahan modal / equity atau valuasi usaha untuk menyampaikan kekayaan dan proyeksi pertumbuhan ke depan. Perusahaan penjual menyampaikan laporan rugi laba untuk menunjukan performa atau kinerja perusahaan. Itu semua tentang tangible asset atau asset yang tidak terlihat, masih ada aset yang tidak terlihat ( intangible asset ) seperti hak merk, hubungan konsumen dan lain lain.




Dan pihak calon pembeli akan mempelajari, mengaudit apa yang disampaikan oleh perusahaan penjual. Apakah sudah dalam kondisi benar apa yang disampaikan, sekaligus menyampaikan sistem pembayaran hingga peralihan asset dari penjual ke pembeli.

Lalu para pihak mengadakan negosiasi bisnis dan menghasilkan MoU ( Memorandum Of Understanding ). Atau dalam bahasa Indonesia dikatakan sebagai Nota Kesepakatan. MoU berisi tentang alasan dan kesepakatan untuk melakukan transaksi. MoU belum mengikat secara hukum, hanya mengikat dalam etika bisnis. Untuk itu maka agar ada perlindungan, kepastian, keadilan dan kemanfaatan hukum, maka perlu dibuat sebuah perjanjian tertulis ( kontrak ).

Baik pihak penjual dan pembeli saling menyodorkan rancangan kontrak yang di dasari MoU yang telah disepakati. Disinilah negosiasi hukum ( law negotiation ) dilakukan. Contoh perbuatan di Negosiasi Biisnis yang menghasilan MoU misalnya tentang harga perusahaan. Contoh perbuatan di dalam negosiasi hukum adalah pemilihan pengadilan yang berwenang menangani sengketa ( legal choice ).Jika beda negara memilih tunduk pada hukum yqng mana.

Disinilah peran legal drafter ( perancang kontrak ) sangat berperan. Baik merancang kontrak maupun menganalisa rancangan kontrak daei lawan traksaksi.

Apa akibat suatu perancangan kontrak tanpa MoU ( Memorandum Of Ubderstanding )?




Perjanjian bisnis tanpa MoU resiko melanggar syarat sah suatu perjanjian, apabila alasan perjanjian ada unsur melawan hukum, maka perjanjian bisa BATAL DEMI HUKUM. Apabila dalam perjanjian tidak dirinci obyek yang diperjanjikan, bisa melanggar obyek tertentu dan rawan pula untuk Batal Demi Hukum.

Kesimpulannya, negosiasi bisnis melahirkan MoU dan negosiasi hukum menghasilkan Kontrak. MoU sangat penting untuk menjelaskan bahwa dalam suatu kontrak tidak ada unsur perbuatan melawan hukumnya.

Untuk itu proses mulai dari negosiasi bisnis, MoU, Negosiaai Hukum dan kontrak perlu diperhatikan. @supriadiasia

Bagikan agar lebih bermanfaat untuk Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *